Sore tadi, aku mengunjungi RSHS dalam rangka liputan bersama dua wartawati dari Detik dan The Jakarta Post. Ceritanya, menjenguk (sambil meliput) Luqman Hakim, diduga korban pembacokan geng motor saat malam tahun baru.
Kondisinya parah dengan luka bacokan di kepala. dari sana aku bertekad harus mengangkat isu geng motor menjadi lebih serius.
Luqman dirawat di RC II, yang kutempuh dengan sekali belok dan sisanya berjalan lurus dari Unit Gawat Darurat. Sebelumnya, kami berkumpul bersama rekan dari Suara Pembaharuan yang kebetulan tiba terlebih dahulu dan menunggu di kantin rumah sakit.
Sewaktu berjalan dari UGD menuju kantin, aku melintasi sebuah pintu menuju paviliun yang letaknya lebih rendah dari lorong utama. Di sanalah aku sadar, ini kan Paviliun Bugenvil! Di sini aku menghabiskan setidaknya dua bulan untuk penyembuhan pascaoperasi pertama yang ditangani Dr Dradjat dan timnya.
Jalan turunan yang landai itu mengingatkanku saat keluar dari ruang operasi, usai menghadapi hari terpanjang dalam hidup. Masih teringat saat itu hari sudah gelap dan hujan mengguyur. Aku yang terbaring dengan ranjang dorong sedang dipindahkan dari ruang operasi untuk dirawat di sana, aku ingat Ajat, perawat yang mendorong ranjang itu.
Kenapa ingat? saat itu pintu paviliun sedang tertutup salah satunya dan ranjang terpaksa dihentikan sementara Ajat membuka pintu yang lain. Rupanya dia salah posisi dan kepalaku pas di lokasi tetesan air hujan yang merembes dari atap yang bocor, all the way ke keningku. Dia cuma ketawa tanpa dosa menyadari dampak tindakannya. remind me to get back at him.
Di Paviliun Bugenvil, aku terkapar di sana selama dua bulan. sakit memang karena usai menjalani operasi besar, umumnya dari pengaruh obat, infus yang gonta ganti hingga ganti perban. Maklum, banyak yg terjadi termasuk pengangkatan tumor 11 kilogram itu yg membuat tubuhku belum siap utk penyembuhan.
Oiya aku juga satu paviliun dengan Dede Manusia Akar sewaktu dia menanti waktu operasi. Sayang ga bisa ketemu, bangun aja ga bisa karena ada dua drain di pantat serta kateter yang menancap.
Selama dirawat di paviliun tersebut, aku juga sempat masuk koran Radar Bandung. Bukan karena operasinya, tapi buat foto pemilu gubernur karena berbarengan dengan aku yg difoto. Kebetulan pula, ga dapet kartu suara gara2 kurang akrab dg ketua RW-nya
untung tetap bisa kasi suara.
Well, ini dia foto di depan Paviliun Bugenvil. maaf fotonya cuma seadanya. foto ini diambil teman dari Detik.com usai wawancara Luqman dan mengetik berita.

Beres itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Paviliun Anggrek yang kelasnya lebih mewah. Secara pasien, aku lebih dijamu di sini karena fasilitasnya lebih nyaman dengan AC maupun televisi sendiri. Namun, apalah arti fasilitas itu kalau kita terbaring tanpa daya.
Di paviliun ini, aku dirawat untuk operasi ke dua dan ke tiga. di kamar yg sama, dekat jendela yg menghadap ke halaman. Itulah sebabnya, begitu aku melintasi paviliun ini, segera minta tolong teman untuk diambilkan gambar. Ini seauatu yg baru mengingat saya orangnya baik hati dan tidak sombong takkan foto di tempat umum tanpa alasan jelas.
Dan ini dia fotonya, dengan fotografer yang sama

Perjalanan hari ini mengingatkanku pada rencana untuk membukukan cerita operasi ini yang belum terlaksana karena krisis Eropa dan perang Irak rada males aja.
dengan tambahan foto ini, semoga menjadi pelecut semangat untuk benar2 metampungkan bukuku. Amin!
Bandung 3 Januari 2012
Special thanks to Tya Eka Yulianti buat sentuhannya. (kamera dr hape layar sentuh jadi ga pake jepret tapi disentuh :p)