Semua dari Hulu

November 7, 2009

Kali ini aku ingin cerita soal ilmu yang didapat dengan hasil ngobrol santai bersama Dr Dradjat. Itung-itung sedikit penyegaran dari pada mengikuti perkembangan pascaoperasi. By the way, overall hasilnya bagus kok, meski ada beberapa catatan penting. Tapi aku mau cerita dulu soal yang laen.

Tanggal 2 November 2009, kembali kusambangi Melinda Hospital. Beruntung, aku dapat nomor 6 karena dokter ini seminggu sebelumnya tidak praktek dan rencananya tanggal 4 kembali izin. Artinya, kesempatan untuk periksa hanya tanggal 2 dan 3 november. Tidak menunggu terlalu lama, akhirnya aku bisa masuk ruang periksa. Seperti biasa pula, beliau menerima dengan hangat sambil cerita kalau beberapa hari sebelumnya mengunjungi kantor pusat tempat aku bekerja yang beralamat di Jakarta. Dia bilang, ada sebuah kampanye yang harus ditujukan kepada masyarakat yaitu mengantisipasi KANKER/TUMOR sejak dari hulu…

Dia pun menerangkan, ada tiga macam prakondisi yang bisa menyebabkan tumbuhnya kanker.

1. GENETIK: Setiap orang mulai sekarang kudu memetakan dari kerabatnya, apakah memiliki riwayat kanker/tumor. Kalau ada, bukan hidup yang seenaknya sendiri yang harus dilakoni, melainkan hidup yang terjaga gizi dan lainnya.

2. KIMIAWI: Aku baru tahu, virus juga memiliki kemungkinan untuk menyebabkan mutasi pada sel kita dan ujungnya berakhir dengan kanker. Itulah sebabnya, harus ada penambahan anggaran untuk pengadaan persenjataan tubuh alias antibodi. Ini bisa ditempuh dengan makan yang cukup, olahraga, dan menjaga tubuh dari kemungkinan masuknya bahan2 kimia seperti menggunakan masker kalau mengendariai sepeda motor untuk menghindarkan asap kenalpot yang isinya jutaan partikel kimia berbahaya. Aku tersadar, ini jarang kulakukan… Maaf, Dok….

3. FISIK: Ini juga yang bikin aku rada kaget. Ternyata, trauma yang terjadi terus menerus pada bagian tubuh yang sama dapat mengakibatkan tumbuhnya kanker. Dari luka benturan yang terjadi terus menerus, ada kemungkinan mutasi terjadi. Itulah sebabnya, kalau ada yang mengalami hal ini atau pekerjaannya membuat kondisi tersebut, segera konsul dengan dokter. Dr Drajat juga menyarankan, tangan jangan usil ganggu tahi lalat atau semacamnya. Itu bisa merangsang kanker atau tumor.

Well, itu saja tips berharga yang aku dapat hari itu….

Soal pemeriksaanku, ada bagian yang sedikit turun di pantat kanan meski tidak ditemukan massa apa pun di bawahnya. Itu terjadi karena lemak di bawah kulit sehingga ada bagian terlihat turun. Saran dokter hanya satu: OLAHRAGA…. hiks…. kali ini aku punya tujuan lain harus kembali disiplin berolahraga…..


A.J.A.T.

October 8, 2009

Rasanya kurang afdol kalau selama ini cuap-cuap soal kisah-kisah di balik operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin tanpa menyebut nama Ajat. Dia salah seorang perawat di sana yang  lebih banyak menjadi homecare alias perawat yang datang ke rumah untuk menangani luka pascaoperasi.

Orangnya masih muda memang, salah satu konsekuensinya memang sedikit sok tahu dan rada kurang ajar. Namun, banyak cerita menarik ternyata yang bisa didapatkan darinya.

Pertemuanku yang pertama dengan orang ini dimulai setelah operasi selama dua hari itu berakhir dengan….aku masih hidup, dan selamat. Aku pun dibawa kembali ke Ruang Bougenville menggunakan kasur dorong. Ajat-lah yang mendorong kasur itu. Saat aku keluar dari kamar operasi, hujan sedang berlangsung. Kurang ajarnya, pas menunggu jalan menuju ruangan terbuka, aku diletakkan di bawah atap yang bocor sehingga mukaku kecipratan air hujan. Tapi waktu itu tidak masalah, bagi aku yang hampir saja “menyeberang”..

Selama dirawat, entah mungkin sudah lupa, aku tidak melihat orang itu lagi. Baru setelah selesai perawatan di RUmah Sakit (hampir 2 minggu dirawat di sana) aku pun barsiap pulang dan bertemu Ajat. Dia pun menawarkan jasa homecare. Saat itu langsung diambil karena bingung juga harus rutin mengganti perban yang lebarnya minta ampun (ditambah luka yang masih merembes dan terus-terusan mengeluarkan cairan)… Dari sanalah, perkawananku dengan Ajar dimulai…

Bagaimana aku mendeskripsikan Ajat?

Untuk pertama, dia tipikal orang yang menekuni dunia keperawatan benar-benar untuk memperdalam profesionalisme. Tidak ada (atau tidak terlalu menonjol) motif mengejar gaji dari perawat, karena dia sendiri memiliki sebuah toko yang menjual oleh-oleh makanan di Bundaran Cibiru, dan kini sebagian lahan juga dibelah menjadi outlet telepon genggam. Beberapa kali, dia bikin aku terpingkal-pingkal waktu itu meski dalam hati (waktu itu, luka masi terbuka lebar), saat datang ke rumah mengendarai sepeda motor Kawasaki Ninja yang harga satuannya bisa mencapai Rp 25 juta per unit. Kadang kala malah dia datang mengendarai mobil SUV. Bukannya ingin membandingkan, aku waktu itu masih mengendarai sepeda motor GL Pro keluaran tahun 1996, kalau orang lain melihat malah bingung dengan pemandangan ini…

Yang ke dua, terkait sifat sok tahunya. Rupanya, itu adalah imbas dari sifatnya yang haus untuk belajar hal baru. Selama merawat luka, beberapa kali dia menawarkan cara-cara untuk sembuh lebih cepat seperti mencoba perban penyerap cairan atau obat yang diminum agar luka cepat mengering. Aku masih ingat, dalam waktu sebulan, setiap harinya aku kudu makan putih telor sebanyak 3 biji telor ayam buras dan 2 biji telor ayam kampung. Aku masi ingat harus meneteskan kecap asin, sekedar untuk memberikan rasa di tenggorokan ini….

Namun, aku tidak bisa mengeluh. Berkat dia, luka selebar pantat itu bisa mengering sesuai jadwal (atau bhkan lebih cepat). Dengan telaten pula, dia mengambil necrosis (jaringan mati) dari luka agar tidak menyebar ke jaringan sekitarnya sambil menggosoknya dengan cairan antiseptik untuk mempercepat luka mengering. Sebenarnya aku punya foto luka pascaoperasi dari awalnya yang dipenuhi necrosis hingga bersih dan berwarna merah segar… siap potong istilahnya hehehe.. cuma aku ga bisa pasang di sini… untuk alasan pribadi…

Dengan penanganannya pula, si Ajat mendapat pujian langsung dari Dr Drajat, dokter yang menangani operasiku. Penyembuhanku bergantung kepada penanganan luka dan obat antibiotik yang aku minum. Namun, harus diakui memang kalau skill Ajat dalam menangani luka bisa dibilang lebih unggul dibanding temen-temen di bangsalnya..

Well, dia sudah membantu aku selama 3 kali operasi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara serius.. Sayang sekali, beberapa kali aku mampir ke tokonya di Cibiru, dia sedang tidak ada di rumahnya…. Oh well, kalau ada kesempatan, semoga kita bisa ketemu lagi (asal tidak dalam hubungan pasien-perawat, aku ogah operasi lagi)….


Editor’s Note #2

August 15, 2009

Tanggal 10 Agustus 2009 kemaren, aku dapet kejutan yang menyenangkan. Ada yang mengomentari blog ini dan memperkenalkan dirinya sebagai orang yang juga hidup bersama dengan neurofibroma (NF). Aku seperti orang Amerika yang sebelumnya mengirimkan sinyal ke luar angkasa berharap mendapatkan jawaban ternyata ada juga orang di luar sana yang memiliki kesamaan dengan aku. At least, ini adalah kesempatan yang berharga untuk bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tujuannya: pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ini.

Dia memperkenalkan diri sebagai Rika, hidup dengan NF tipe 1. Aku belum nanya2 lebih spesifik soal cerita dia mengenai NF.  Kalo nanya sama Abah WIki, bisa ditemukan di sini jawabannya. Kalau ngobrol dengan Dr Drajat, selalu dibilang kalo yang aku alami adalah neurofibroma, bukan neurofibromatosis… Kalau aku salah memakai istilah NF untuk neurofibroma, harap maklum, ya hehehe….

Well, setelah beberapa kali bertukar surat elektronik, dia menyarankan agar aku menggunakan istilah hidup dengan NF, bukan mengidap NF. Alasan yang dikemukakan memang sangat masuk akal, kita tidak mengidap karena NF bukanlah penyakit melainkan dominan dipengaruhi unsur genetik. Untuk itulah, aku mengganti page yang sebelumnya “Battle the NF” menjadi “Living with the NF”. Penyikapan kita terhadap semua kondisi kadang berpengaruh banyak dalam menentukan kesembuhan. Lain kali kuceritakan pengalamanku setelah operasi besar pertama di Bandung, saat luka bekas operasi terbuka lebar dan menganga… Leave it for another day….


Cerita yang Belum Rampung

August 4, 2009
Untuk kesekian kalinya, hari Senin (3/8) malam aku kembali tiba ke lobi RS Melinda yang beralamat di Jl Pajajaran Bandung. Malam itu, rumah sakit khusus perempuan itu tidak terlalu ramai dengan kerumunan ibu hamil maupun ibu muda yang memeriksakan anak yang masih balita..
Tujuan sudah pasti, malam itu untuk kesekian kalinya bertemu dengan Dr Drajat. Memang, seperti saran beliau, kontrol dilakukan per 6 bulan padahal ini baru 5 bulan sejak kontrol terakhir.
Mungkin bisa diceritakan sebelumnya, kalau beberapa hari ini aku baru nyadar kalau ada benjolan kecil yang sedikit terasa di bagian pantat, dekat dengan luka bekas operasi tahun 2008. Karena tidak yakin, dan untuk lebih memastikan, aku butuh expert opinion.
Kembali lagi ke depan pintu praktek beliau. Aku dapat nomor urut ke-3. Dan beruntung, aku datang jam 20.30, pasien nomor 2 baru saja meninggalkan ruang praktek jadi ga harus bengong menebar pandangan ke pasien yang didominasi kaum hawa berusia muda itu…
AKhirnya, ketemu lagi dengan dokter bedah tumor yang dulu mengoperasiku. langsung saja, buka celana dan tengkurap di meja pemeriksaan… Beliau mengamini kalau memang ada benjolan yang sedikit tidak normal.
Pembicaraan pun dilanjutkan di depan meja konsultasi (tentunya celana kembali dipakai). Dia pun merekomendasikan kalau setiap bulan, benjolan berdiameter 1 cm itu kudu diawasi ketat. Kalau ada pertumbuhan yang tidak normal, segera dilaporkan, dan itu bisa berarti satu hal: OPERASI….
Namun, dia tidak bisa langsung memastikan apakah benjolan itu bagian dari tumor atau tidak. Dr Drajat pun menerangkan kalau sewaktu dulu meng-eksisi massa tumor seberat 11 kg, itu dinamakan jaringan fibrous histio sitoma. Pasca eksisi, terjadilah penyembuhan dan muncul jaringan fibrous atau fibrotik untuk penyembuhan luka (mirip jaringan tebal). Berhubung sama2 jaringan fibrous, terlalu dini untuk bisa memastikan itu bagian tumor atau tidak.
Dia hanya menegaskan, kalau jaringan tumor adalah jaringan fibrous yang tumbuh. Aku pun bertanya, adakah faktor rangsangan eksternal bisa mempengaruhi, mengingat lokasi benjolan sering tertekan karena duduk di jok sepeda motor sewaktu kerja. Dia tidak menampik…

Untuk kesekian kalinya, hari Senin (3/8) malam aku kembali tiba ke lobi RS Melinda yang beralamat di Jl Pajajaran Bandung. Malam itu, rumah sakit khusus perempuan itu tidak terlalu ramai dengan kerumunan ibu hamil maupun ibu muda yang memeriksakan anak yang masih balita..

Tujuan sudah pasti, malam itu untuk kesekian kalinya bertemu dengan Dr Drajat. Memang, seperti saran beliau, kontrol dilakukan per 6 bulan padahal ini baru 5 bulan sejak kontrol terakhir.

Mungkin bisa diceritakan sebelumnya, kalau beberapa hari ini aku baru nyadar kalau ada benjolan kecil yang sedikit terasa di bagian pantat, dekat dengan luka bekas operasi tahun 2008. Karena tidak yakin, dan untuk lebih memastikan, aku butuh expert opinion.

Kembali lagi ke depan pintu praktek beliau. Aku dapat nomor urut ke-3. Dan beruntung, aku datang jam 20.30, pasien nomor 2 baru saja meninggalkan ruang praktek jadi ga harus bengong menebar pandangan ke pasien yang didominasi kaum hawa berusia muda itu…

AKhirnya, ketemu lagi dengan dokter bedah tumor yang dulu mengoperasiku. langsung saja, buka celana dan tengkurap di meja pemeriksaan… Beliau mengamini kalau memang ada benjolan yang sedikit tidak normal.

Pembicaraan pun dilanjutkan di depan meja konsultasi (tentunya celana kembali dipakai). Dia pun merekomendasikan kalau setiap bulan, benjolan berdiameter 1 cm itu kudu diawasi ketat. Kalau ada pertumbuhan yang tidak normal, segera dilaporkan, dan itu bisa berarti satu hal: OPERASI….

Namun, dia tidak bisa langsung memastikan apakah benjolan itu bagian dari tumor atau tidak. Dr Drajat pun menerangkan kalau sewaktu dulu meng-eksisi massa tumor seberat 11 kg, itu dinamakan jaringan fibrous histio sitoma. Pasca eksisi, terjadilah penyembuhan dan muncul jaringan fibrous atau fibrotik untuk penyembuhan luka (mirip jaringan tebal). Berhubung sama2 jaringan fibrous, terlalu dini untuk bisa memastikan itu bagian tumor atau tidak.

Dia hanya menegaskan, kalau jaringan tumor adalah jaringan fibrous yang tumbuh. Aku pun bertanya, adakah faktor rangsangan eksternal bisa mempengaruhi, mengingat lokasi benjolan sering tertekan karena duduk di jok sepeda motor sewaktu kerja. Dia tidak menampik…

Pembicaraan pun dilanjutkan dengan review operasi selama ini… Operasi besar untuk mengangkat tumor pertama kali dilakukan pada bulan April 2008 (berhubung aku juga ingat nyoblos pilgub di RSHS, dan fotonya masuk ke koran RADAR Bandung hehehe) dan operasi berikutnya untuk mengangkat sisa operasi pada bulan NOvember 2008. Artinya, sudah hampir 1,5 tahun sejak operasi  besar lalu…

Aku pun bertanya, bisakah tumor itu kembali. Langsung dijawab: kemungkinan besar bisa. Penyebabnya jenis tumor NF merupakan tumor yang bentuknya sulit dipastikan dan dia hidup di tingkat jaringan. Dia pun juga menerangkan soal karakter tumor yang memiliki sifat angio genesis yang berarti bisa merangsang pembuluh darah terdekat untuk menumbuhkan tunas ke arah dia. Dengan demikian, tumor itu pun memiliki suplai makanan untuk terus tumbuh.

Usai menutup konsultasi, kita pun ngobrol santai (ga sambil minum kopi)… Beliau cerita kalau seminggu sebelumnya dia baru saja datang dari Bali untuk pertemuan antara ilmu onkologi. Rupanya seperti di dunia persilatan, dalam dunia onkologi ada dua golongan yaitu bedah onkologi dan onkologi medik yang tidak terlalu akur. Tujuan pertemuan itu adalah mempertemukan dua golongan agar bisa bersama-sama memajukan dunia medis Indonesia. Dr Drajat sadar, tahun 2010 adalah tahun yang mengancam karena bakal masuknya dokter asing ke Indonesia. Kalau di internal saja keropos, habislah dokter kita….

Well, sekian dulu bla bla bla-nya… kalau ada penulisan istilah kedokteran yang kurang tepat, harap maklum… I’m a political study graduate for God’s Sake…..


Terapi Fisik Dimulai

May 28, 2009

Sudah dua hari terakhir ini aku memulai terapi fisik di tempat fitness tidak jauh dari rumah (sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor). Dibilang terapi sebenarnya terlalu “mewah” atau “mendesak”. Isinya sama, latihan angkat beban dan kegiatan fisik yang lain. Tujuannya tidak pernah muluk-muluk seperti membentuk otot bisep dan trisep ala binaragawan atau tubuh kekar seperti di videoklip hip hop hehehe.

Niatku cuma satu, dengan latihan beban, otot di bagian pundakku akan terbentuk sehingga secara otomatis bisa mengurangi kecenderunganku untuk kembali membungkuk. Seperti yang pernah kuceritakan dalam entri blog sebelumnya di sini, aku memiliki masalah dengan punggung bungkuk. Apa yang sudah berlalu biarlah, sekarang aku perlu menangani masalah ini karena secara visual (ga enak diliat), sosial, serta medis juga mengkhawatirkan… Semakin lama aku menunda untuk menangani masalah ini, semakin gawat biaya yang harus dibayar di masa mendatang.

So, sejak kemaren aku berusaha menyempatkan diri datang ke tempat fitness di daerah Metro Margahayu itu. Bukan Celebrity Fitness yang ada model Davina itu, tapi at least peralatannya cukup memadai dan lumayan nyaman (ga terlalu sesak sewaktu aku kesana dua kali ini).

Sebagai pemula, tentunya aku masih harus membiasakan ototku dengan peralatan fitness. Itulah kenapa dua hari pertama lebih dimaksudkan seperti pengenalan aja. Aku hanya mencoba memakai peralatan yang ada, pulldown, treadmill, butterfly dsb. Menurut rencana, bila tiga hari kemudian sudah terbiasa, barulah masuk ke dalam sesi program. Masalahnya aku belum ngomong sama pelatihnya kalo aku ga pengen bentuk otot, tapi cuma pengen maen2 pake peralatan fitness aja hehehe….

Pegal? hooh.. Tapi sedikitnya aku dah mulai merasakan ada sinyal positif karena lebih gampang ingat untuk menegakkan punggung sekarang. Memang si, bisa jadi itu akibat otot yang masih tegang akibat belum terbiasa menangani beban berat. Tinggal masalah iman… ni dia, masalah klasik manusia, semangat di awal dan mengendor beberapa saat kemudian…

Well, jangan harap aku sekarang terlihat lebih ramping atau six pack nya dah nongol. Aku masih setia dengan econo-single bag di bagian perut hehehe.

Hari pertama memang belum ada gejala yang patut dikhawatirkan. Karena masih membiasakan diri, aku hanya diberi “jatah” beban seberat 5 kilogram. Barulah hari ke dua (atau hari ini) jatahku ditambah 5 kg lagi jadi 10 kg. Di sanalah, sempat ada gejala yang rada bikin khawatir.

Pas gerakan menarik ke arah bawah dengan beban 10 kg, tiba-tiba jemari tangan kiri ku terasa kram padahal aku baru mulai dan baru set pertama.Yang paling terasa adalah jari telunjuk, jari tengah, dan jari kelingking. Pas aku ngetik blog ini, rasa kesemutannya masih terasa meski jauh lebih mereda. Rasa kesemutan itu aku acuhkan dan memang benar, dalam beberapa gerakan tertentu memang tidak lagi terasa nyeri jemari tangan kiri ku.

Di sana, aku mencoba mengingat apa kira-kira penyebabnya. Untungnya, ingatanku masih mau kerja sama. Aku boleh menduga, ini salah satu dampak dari operasi pertama ku dulu bulan April 2008. Saat itu, beberapa urat syarafku rada tersenggol atau sedikit terpotong (menurut penuturan Dr Dradjat) sewaktu operasi pengangkatan besar-besaran. Gejala yang dulu paling kurasakan adalah kaki kiri yang kesemutan luar biasa… Aku berani bilang luar biasa itu karena serasa mengangkat kaki ke udara selama 5 jam tanpa istirahat, itulah rasanya.

Saat kakiku terasa kesemutan, sebenarnya jemari tangan kiriku juga terasa.Kalau aku tidak salah, yang paling terasa adalah jari kelingking. Hanya saja, waktu itu kata perawat, kesemutan itu akibat pengaruh obat bius total selama operasi. Sekedar mengingatkan, aku dapet dosis obat bius rada banyak pas operasi pertama yaitu operasi pertama dan operasi keesokan harinya akibat pendarahan yang diakibatkan operasi.

Selama dirawat, aku si percaya aja soal jari tangan kiri ku. Memang si aku sempet heran karena kesemutan itu masih terasa bahkan sampai aku dirawat di rumah. Tapi lambat laun (meski hitungan bulan), kesemutan itu mereda dan aku pun melupakannya…

 

Terlepas dari gejala di jari tangan kiri ku, artinya aku harus lebih berhati-hati dan cermat dalam melakukan aktifitas fisik. Aku memasang target minimal ada hasil mencolok terhadap punggungku dalam 3 bulan mendatang…

 

 

 

itu kalo aku rajin latihan hahahaha…..


Crystal Soul

May 17, 2009

Barusan nonton THE GOLDEN WAYS bersama Mario Teguh di Metro TV… tema acara hari itu adalah crystal soul. Ga tau dia terinspirasi abis nonton film Indiana Jones yang terbaru atau gimana hehehe…

 

Anyway, beberapa poin yang aku tangkap dari acara hari itu adalah soal BERSYUKUR. Bagaimana sikap bersyukur itu kebajikan yang mendasar dalam menjalani hidup ini. Mario sebelumnya menggambarkan sebuah diagram soal perjalanan hidup, bagaimana sebagian besar dari kita menggambarkan salah satu tujuan hidup adalah menjadi sukses.

Hal pertama yang dilakukan adalah tahu terlebih dahulu, sukses dalam hal apa, dan modal apa yang kita miliki untuk bisa sukses.

Berikutnya, Mario menegaskan bahwa sukses itu bisa berarti tujuan dalam hidup yang tercapai atau justru perjalanan hidup kita yang dilalui dengan penuh rasa syukur. Dia menuturkan, perjalanan menuju sukses adalah transisi dari apa yang kita miliki untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Masalahnya, sudahkah kita mensyukuri apa yang sudah kita miliki, atau malah mensyukuri apa yang belum kita miliki?

 

Pada satu titik, dia pun menegaskan, rasa syukur lah yang akan menjadi motivasi dasar kita untuk maju. Sebagai landasan untuk meraih kebahagiaan lebih tinggi. Apa pun kesulitan, kekurangan, atau kondisi minus yang kita miliki justru harusnya sebagai motivator utama kita untuk bersyukur, atau dalam kata lain, sebagai ujian untuk kenaikan tingkat keimanan atau kualitas pribadi kita sebagai individu…

 

Suddenly, it snapped in my head.

 

Tidak terasa, sudah satu tahun sejak operasi eksisi tumor ini dilangsungkan di ruang operasi Rumah Sakit Hasan Sadikin… hasilnya, kenangan masa lalu (yang sebagian umurku kuhabiskan untuk mengutuknya) seberat 15 kilogram pun akhirnya berpisah dari badanku.

Selama ini, aku selalu menganggap kondisiku adalah sebuah beban, cacat, atau terkadang terasa lebih sebagai azab dari Tuhan atas perbuatan yang aku tidak ketahui… Masa-masa itu memang penuh dengan frustasi. Aku akan bohong kalau berkata kondisi tersebut tidak berpengaruh kepada kejiwaanku….

Usai operasi itu berlangsung, selama terbaring di kasur (di rumah sakit atau di rumah sendiri, tidak ada bedanya karena butuh 2 bulan plus satu operasi untuk menutup luka eksisi yang demikian besar dan lebar), barulah aku sedikit mengerti bahwa semua itu hanyalah sebuah ujian dari Tuhan. Aku tidak tahu pasti, kapan neurofibroma ini bisa kembali, tapi masa-masa pascakesembuhanku adalah masa terbaik untuk belajar mengenai rasa syukur, syukur terhadap apa yang pernah aku miliki dulu dan apa yang sudah tidak aku miliki lagi..

 

Paruh terakhir dalam acaranya, Mario Teguh mengungkapkan soal perlunya kita untuk senantiasa tersenyum di kala susah, maupun senang… Tetap optimis kalau seluruh kondisi yang terjadi pada kita adalah sebuah ujian untuk naik tingkat. Itu terjadi kalau kita berhasil nyaman dengan segala kekurangan yang kita miliki, barulah akan muncul kesempatan untuk keluar dari zona nyaman kita (alias menuju situasi baru)..

Mario pun dengan bercanda menuturkan, kalau kondisi kita tidak pernah berubah, jangan-jangan Tuhan memang berkehendak demikian karena melihat kita yang belum siap untuk maju dan sebagainya…

 

Meski hanya beberapa menit, acara itu membuatku merenung….banyak.

Tersenyum, itulah yang harus lebih sering aku lakukan. Aku sudah menikmati punya keluarga dan profesi. Tinggal bagaimana bersyukur dan menikmati hidup.

 

SMILE!!!!!


Bulk itu sudah tidak ada

April 13, 2009

Hari Senin (13/4) ini, aku barusan selese kontrol ke Dr Dradjat di Melinda Hospital..

Entah kenapa, ramai sekali para pasiennya..

Anyway, kembali ke hasil pertemuan.. Setelah diperiksa dengan perabaan, ternyata ada beberapa perkembangan baru yang cukup menarik:

1. Bulk (atau bnjolan) yang ada di dekat belahan pantat sudah menghilang. Dr Dradjat mengatakan, bisa jadi itu disebabkan proses penyembuhan luka yang masih berlangsung hingga kini..

Sebagai ganti dari benjolan itu, masih tersisa dua benjolan kecil yang masih harus terus dipantau. Beliau pengen biar tiap bulan dicek dan ketemu lagi dalam enam bulan.

Kalau ada pertumbuhan abnormal, you know the drill…

2. Salah satu alasan lain kedatanganku kesana adalah meminta keterangan yang diperlukan untuk pengajuan polis asuransi dari Prudential…

Dari keterangan medis yang diberikan, Dr Dradjat menaksir kondisiku sebagai dubia ad bo….(kata terakhir kurang jelas terdengar), tapi dijelaskan kalau maksudnya ragu-ragu tapi ke arah baik.

Dr Dradjat menuturkan, kata ragu-ragu dipakai untuk menunjukkan karakteristik Neurofibroma yang sulit diprediksi.. untuk kata baik karena sejak operasi bulan November, so far belum ada kendala yang berarti…

Dr catatan medis, terlihat bahwa pertama kali aku datang berkunjung ke Melinda Hospital adalah pada 13 April 2008… Tidak terasa sudah satu tahun berlalu sejak operasi besar itu…

Operasi yang selamanya mengubah hidupku…


Relieved

February 9, 2009

Tadi malam aku periksa ke dokter Dradjat. Seperti kontrol sebelumnya, aku selalu was-was.

Seperti kontrol sekitar bulan Agustus 2008 dulu, setelah luka operasi sembuh dan aku ingin kontrol ternyata beliau menemukan ada benjolan lagi sehngga saran yang bisa diberikan adalah : Operasi Lagi…

Itulah sebabnya, dengan alasan yang sama aku jadi khawatir sewaktu menunggu giliran periksa di Melinda Hospital.

Luckily, kontrol kemaren cukup melegakan hati karena dr Dradjat tidak mengeluarkan rekomendasi tersebut, hanya memang ada beberapa catatan:

1. Ada benjolan di bagian dalam yang berjarak 4 cm dr belahan pantat sebelah kanan yang patut terus diobservasi. Beliau menyebutnya bulky atau semacam penumpukan yang entah belum bisa dipastikan kalau itu neurofibroma atau tidak. Mulai tadi malam, digunakan metode pengukuran untuk memantau pertumbuhannya dan didapatkan lebar 4 cm dan akan diperiksa 3 bulan mendatang.

2.Ada semacam koloid (atau keloid? aku ga jelas denger) di bagian tengah atas. Itu bikin rada sakit kalo ditekan. Gejala normal, tapi jangan diotak atik.

Dari pemantauan sekilas, Dr Dradjat berkesimpulan kalau pertumbuhan tumor kali ini tidaklah terlalu mengkhawatirkan, mengingat sejak operasi terakhir (sekitar akhir bulan Oktober 2008) hingga awal Februari 2009 tidak terlihat banyak pertumbuhan tumor.

sedikit bisa menarik nafas lega hehehe…

Well, artinya sekarang tinggal terus memantau dan melanjutkan apa yang aku bisa lakukan, olahraga dan minum obat herba (meski dokter tidak terlalu menganjurkan)….

At least I’m saved until the next three months…


Punggung Bungkuk

January 26, 2009

Gong Xi Fat Choi

Kesempatan yang baik untuk menulis entry.. maaf kalo dah lama ga nulis blog setelah luka pascaoperasi sembuh total.

Kondisiku sekarang relatif baik2 saja. Memang aku beberapa minggu terakhir rada ngerasain perubahan di pantat bagian kanan (lokasi operasi favorit), kaya sedikit lebih penuh…

I know mungkin aku rada paranoid kalau ada pertumbuhan jaringan kembali..

Okay, enough about that. Entry ini mo cerita soal punggung. Seperti pembaca budiman ketahui, aku memutuskan untuk mengambil cuti ke Muntilan, Kab Magelang, Jawa Tengah, kampung halaman istri. Tujuannya si biar sekeluarga bisa sedikit rileks dari rutinitas dan beban rumah tangga harian.

Well, hari kedua kedatanganku di Muntilan, aku dipijat sama salah seorang langganan keluarga Muntilan. Everything okay until she said that she discovered my backbone’s a little bit unstraight… rada bungkuk kalo untukukuran seumuranku. Dampaknya ke pundak yang sedikit menutup (seharusnya mengembang… singkat kata harusnya membusung).

Dia pun menyarankan aku melakukan aktivitas stretching tiap pagi untuk meluruskan kembali. Sambil meminta aku untuk senantiasa ingat menegakkan punggungku.

Memang si, ini adalah hasil kebiasaan sejak kecil. Orang tua ku selalu bilang kalo aku jalan selalu ’sangkuk’ atau rada membungkuk.

Ini bukan cerminan dari budaya feodalisme jawa, tapi mungkin kondisiku dulu turut memengaruhi. Aku dulu jalan atau berdiri dengan punggung membungkuk dengan tujuan mengompensasi excess di bagian belakang bawah.

Kalau liat foto aku lagi jalan, emang mati gaya si liat jalan bungkuk…

Anggap saja ini resolusi tahun baru imlek. (aku ga ngerayain tapi setiap milestone kehidupan harus diperingati, kan?)… Aku akan menyelesaikan masalah punggung ini dalam tahun kerbau ini (satu unsur aja, kan selain shio juga ada unsurnya)…

Okay dah, kembali lagi ke mengurus punggung hehehe

Salam imlek…


Editor’s Note #1

December 2, 2008

Sekedar catatanku aja..

 

Tanpa terasa, blog wordpress ku ini dah banyak dihuni tulisan-tulisan (akhirnya mood nge-blog muncul juga). Cuma perkembangan dalam lima bulan terakhir, blog yang semula ditujukan untuk blog pribadi malah memfokuskan diri ke ceritaku soal Neurofibroma… that’s not a bad thing….. mungkin kalau ada cerita yang bisa dibagi bisa tetap kumasukkan atau butuh blog baru agar pembaca budiman tidak bingung.

Well, itu aja…… silahkan menikmati kunjungan ke blog ini…

 

Untuk sementara, I’m still talking to myself… no visitor today… hic